erkembangan mikroskop memungkinkan para ilmuwan mendapatkan wawasan baru tentang tubuh dan penyakit.

Tidak jelas siapa yang menemukan mikroskop pertama, namun pembuat kacamata asal Belanda, Zacharias Janssen (b.1585) dianggap sebagai orang yang membuat salah satu mikroskop majemuk paling awal (yang menggunakan dua lensa) sekitar tahun 1600. Mikroskop paling awal dapat memperbesar suatu objek hingga 20 atau 30 kali ukuran normalnya.

Pada tahun 1660-an, orang Belanda lainnya, Antonie van Leeuwenhoek (1632-1723) membuat mikroskop dengan menggiling lensanya sendiri. Mikroskop sederhana miliknya lebih mirip kaca pembesar, dengan hanya satu lensa. Namun lensa hand-ground berkualitas tinggi dapat memperbesar objek hingga 200 kali lipat.

Leeuwenhoek mengamati jaringan hewan dan tumbuhan, sperma dan sel darah manusia, mineral, fosil, dan banyak hal lain yang belum pernah dilihat sebelumnya dalam skala mikroskopis. Dia mempresentasikan temuannya kepada Royal Society di London, di mana Robert Hooke juga membuat penemuan luar biasa dengan mikroskop. Hooke menerbitkan ‘Micrographia’ (1665), kumpulan ilustrasi objek pelat tembaga yang menakjubkan yang telah dia amati dengan mikroskop majemuknya sendiri.

Sambil mengamati irisan tipis gabus, Hooke menggambarkan apa yang dilihatnya sebagai pori-pori:

Dia adalah orang pertama yang menggunakan istilah ‘sel’ untuk menggambarkan apa yang kemudian dikenal sebagai bahan penyusun semua organisme hidup, tumbuhan dan hewan.

Penyimpangan Mikroskopis

Banyak peneliti menolak menggunakan mikroskop awal karena mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Penyimpangan dan kotoran pada lensa menyebabkan distorsi yang menyebabkan kesalahan dalam pengamatan. Tidak banyak perubahan pada desain dasar mikroskop selama 200 tahun berikutnya, namun perbaikan dalam pembuatan lensa (seperti penggunaan kaca yang lebih murni) membantu memecahkan masalah seperti distorsi warna dan resolusi gambar yang buruk. Cermin ditambahkan ke mikroskop majemuk untuk menambah lebih banyak cahaya dan meningkatkan gambar.

Namun pada awal abad 1800-an, ahli patologi Perancis Xavier Bichat, yang melakukan banyak penyelidikan terhadap sampel jaringan dan organ, masih menolak menggunakan mikroskop. Dua masalah utama yang menghambat pembuatan lensa: keburaman gambar (aberasi sferis) dan pemisahan warna (aberasi kromatik). Sekitar tahun 1830, Joseph Jackson Lister, bekerja sama dengan pembuat instrumen William Tulley, membuat salah satu mikroskop pertama yang mengoreksi kedua kesalahan ini.

Dengan terselesaikannya dua masalah besar ini, penggunaan mikroskop dalam sains dan kedokteran berkembang pesat.

Mikroskop Di Laboratorium

Sejak tahun 1830-an, sel dan teori sel menjadi fokus penelitian medis dan biologi, berkat peran sentral mikroskop dalam ilmu laboratorium. Para peneliti mampu mendeskripsikan tubuh pada tingkat mikroskopis dengan lebih konsisten dan lebih percaya diri terhadap apa yang mereka lihat. Antara tahun 1838 dan 1839 dua ilmuwan Jerman, Mathias Schleiden (1804–81) dan Theodor Schwann (1810–82) mengusulkan bahwa sel adalah bahan penyusun kehidupan tumbuhan dan hewan.

Schwann mempunyai pelatihan medis dan mengusulkan bahwa memahami perilaku seluler adalah kunci untuk memahami tubuh dalam kesehatan dan penyakit. Teorinya diambil alih oleh peneliti Jerman lainnya, Rudolf Virchow (1821–1902), yang mungkin merupakan guru patologi paling berpengaruh di tahun 1800-an.

Mikroskop berada di pusat karya Virchow tentang proses penyakit, ia mendorong murid-muridnya untuk ‘belajar melihat secara mikroskopis’. Sebagian besar pekerjaan Virchow melibatkan penyelidikan jaringan dan sel di laboratorium dan kemudian menghubungkan temuannya dengan perubahan klinis pada pasiennya.

Dia memanfaatkan perkembangan terkini dalam mikroskop seperti penggunaan mikrotom untuk memotong irisan jaringan yang sangat tipis dan pengembangan noda untuk menyorot bagian-bagian sel.

Mikroskop Di Lapangan

Arthur Hill Hassall (1817–1894) adalah seorang dokter Inggris, dan pelopor penggunaan mikroskop sebagai alat dalam pengobatan dan kesehatan masyarakat. Pada tahun 1846 ia menerbitkan studi dua jilid, ‘The Microscopic Anatomy of the Human Body in Health and Disease’, buku teks bahasa Inggris pertama tentang subjek tersebut. Buku keduanya, ‘Pemeriksaan mikroskopis terhadap air yang dipasok ke penduduk London dan distrik pinggiran kota’ (1850), menjadi karya yang berpengaruh dalam mempromosikan tujuan reformasi air.

Dan pada awal tahun 1850-an ia juga mempelajari pemalsuan makanan, dan menerbitkan temuannya di jurnal medis The Lancet. Kampanye jurnal mengenai pemalsuan makanan mengarah langsung pada Undang-Undang Pemalsuan Makanan tahun 1860. Pekerjaan investigasi Hassall dengan mikroskop menunjukkan bagaimana ilmu laboratorium dapat digunakan untuk mengumpulkan bukti dari lapangan tentang kesehatan dan penyakit.

Share Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *